psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Berumah di gunung Pancar

Pertama kali mengajak anak camping, yah ketika kami di Australia. Tapi camping disana lumayan enak, sudah ada dapur dan fasilitas MCK nya sangat terjaga, kita hanya perlu bawa tenda, makanan dan alat-alat masak. Terkadang, alat-alat masak sudah disediakan. camping perdana kami waktu di Uluru dan yang kedua di Victoria.

Emang dasar manja, begitu mendengar ada glamping (glamorous camping) ada di Indonesia, saya pun bersorak-sorak. Tapi, saya ingin menunggu Nyala agak gedean dikit, biar dia juga bisa menikmati. Teringat saya waktu Nyala menangis semalaman waktu kami membawanya ke pulau Macam. hahahaha…yang ada bukan liburan.

Ah akhirnya saat itu tiba. Nyala hampir dua tahun. Langsung saja saya dan bapaknya anak-anak merealisasikan rencana glamping yang tertunda.  Setelah tanya-tanya ke teman kami Virtri yang sering berglamping ria, saya memilih gunung Pancar karena lokasinya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Dua minggu sebelumnya kami baru ke Bandung, kayaknya capek harus kembali ke sana untuk Glamping karena rata-rata lokasi Glamping di Lembang, Bandung atau Sukabumi. Atas inisiatif Kelik, kami pun mengajak tetangga baru kami Silmi, Ahsan dan anaknya Sofia. Mungkin lebih seru jika memang pergi berombongan supaya anak-anak juga bisa mengeksplor alam dengan teman-temannya.

IMG_20171029_094138.jpg

 

 

 

IMG_20171029_093350.jpg

Begitu sampai disana, saya sudah terkesima dengan pohon-pohon pinus yang menjulang tegak ke angkasa. Begitu masuk pintu gerbang, di kanan-kiri sudah ramai orang-orang menjajakan spot-spot untuk foto. Kreatif banget deh. Jadi semacam booth di nikahan, yang nuansanya bisa dipilih-pilih, hanya saja kita harus bayar. Yang kami coba tiga booths seharga 20 rb untuk orang dewasa, 10 ribu untuk anak-anak. Bahkan ada yang meminjamkan kamera juga coba, dan gak sembarang kamera, karena mereka menyediakan kamera Nikon coba dan bayarnya cuma Rp 2000 per foto. Lumayan banget untuk di coba berasa punya fotografer sendiri pas jalan-jalan.

IMG_20171029_065903_1.jpg

IMG_20171029_070048.jpg

IMG_20171028_163329.jpg

 

Lokasi perkemahan kami ternyata lumayan di pelosok, tapi dari gerbang bisa terlihat dan ditempuh dengan jalan kaki. Anehnya dan juga asiknya, ternyata hanya kami yang menginap malam itu. Jadi serasa dunia milik kami. Dua tenda putih terpancang tegak dibatasi oleh bendera-bendera kecil warna-warni sementara di tengah ada tenda untuk makan di hiasi lampu-lampu cantik. Seruuuu dan cantiiiik.

IMG_20171029_094057.jpg

 

IMG_20171029_053355.jpg

IMG_20171029_094925.jpg

IMG_20171029_053519.jpg

 

Setelah beberes, kami makan siang di ruang makan baru kami karena di perjalanan tidak sempat mampir. Tidak ada restoran atau warung terdekat, untungnya ada mas-mas penjaga yang helpful. Akhirnya kami meminta bantuannya untuk membeli nasi dan lauk pauk. Aaah ketika makanan terhidang, kami makan dengan lahap (baca: bapak-ibunya yah, karena anak-anak sibuk main). Memang beda yah makan di alam terbuka.

Setelah kenyang dan leyeh-leyeh sebentar, kami pun memutuskan jalan-jalan sekitar lokasi perkemahan. Kami juga mencoba foto-foto di beberapa booth yang cantik dan satu foto wajib duduk tindih-tindihan di hammock dong yaah…

Setelah itu kami pulang dan makan malam sudah tersedia. Ayam bakar, sambal, sop dan krupuk. Yummmmeeeeh. Kami pun meminta acara api unggun (iyah karena kami memesan jauh-jauh hari, kami dapat fasilitas api unggun juga) dipercepat, karena takutnya anak-anak keburu ngantuk.

IMG_20171028_174325.jpg

IMG_20171028_181835.jpg

Aah tapi salah perhitungan, karena anak-anak jadi gak konsen makan, mereka terkesima melihat api unggun yang sudah menyala.  Di sebelah api unggun, kami pun membakar jagung dan sosis yang kami bawa dari rumah. Anak-anak pun ikut membantu, kecuali Nyala yang sibuk mondar-mandir melihat api unggun.

Enaknya membawa anak-anak kecil berkemah adalah kami tidak butuh upaya keras untuk menyenangkan mereka. Batu-batu besar, tetumbuhan di pinggir jalan sudah membuat mereka girang, dataran kosong pun menjadi tempat mereka berlari-lari tanpa henti. Begitu masuk tenda, mereka bisa berjam-jam didalam. Si Nyala pun sontak berteriak “rumah” bukan “tenda” ketika ditanya kita ada di mana sekarang.

Esoknya kami bangun pagi dan jalan-jalan memutari kawasan gunung Pancar. Kami melihat banyak juga yang bertenda di sekitar kami dan mereka membawa tenda sendiri. Aah mungkin kami akan mencobanya kelak, ketika anak-anak sudah gedean lagi. Setelah kembali, sarapan sudah siap dan setelahnya kami pun menghabis waktu menikmati saat-saat terakhir kami di gunung Pancar sambil berfoto-foto.

IMG_20171029_062458.jpg

IMG_20171029_063531.jpg

IMG_20171029_071136.jpg

Sebenarnya asik glamping di gunung Pancar, karena gak glamor-glamor amat. Suasana berkemahnya masih dapat kok, sempurnalah sebagai pengenalan anak-anak yang ingin diajak bener-benar camping.

Sebelum kembali ke rumah, Ahsan dan Silmi mengajak kami ke air terjun didekat sana. Sebenarnya pilihan tempat wisata dekat sana selain air terjun adalah pemandian air panas, tapi karena gak yakin dengan air panasnya, kami memutuskan untuk ke air terjun. Tapi udara di gunung Pancar tidak dingin-dingin amat, kami pun jarang memakai jaket disana.

IMG_20171029_120023.jpg

Sebeneranya air terjunnya gak okay-okay banget kok. Lebih cocok untuk anak-anak yang sudah besar, karena ada beberapa titik yang lumayan dalam. Jadinya kami main di air-air berbatu saja.

Setelah basah dan capek, kami pun pulang. Sebenarnya yang seru juga adalah perjalanan dari tempat perkemahan ke air terjun, kami melewati beberapa lereng-lereng cantik yang masih penuh dengan sawah-sawah bertingkat. Kami sempat berhenti untuk foto-foto dan sekembalinya dari sana menuju rumah, kami melewati gunung Pancar kembali dan melihat dari jauh tenda-tenda putih kami sudah hilang. Aaah…saya langsung mengerti kenapa Nyala bisa menyebutnya rumah dan bukan tenda.

IMG_20171029_111441.jpg

 

 

Advertisements

No Responses to “Berumah di gunung Pancar”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: