psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Bekerja dari rumah, dekat dengan anak

Mulai pertengahan Maret lalu, saya menyandang predikat baru, yaitu Ibu pekerja di rumah (work-at/from-home mommy).  Bukan pilihan mudah setelah sebelumnya menyandang status pekerja penuh waktu di sebuah institusi bergengsi di tingkat regional. Saya sampai detik ini masih berusaha menyakinkan diri saya sendiri bahwa ini adalah keputusan yang benar. Setidaknya benar buat anak-anak saya.

Di pekerjaan saya yang baru ini, saya tidak perlu ke kantor tiap hari. Saya bisa melakukan pekerjaan di mana saja, asal ada laptop dan internet. Saya hanya ke kantor untuk rapat mingguan atau urusan insidental yang memerlukan tatap muka. Selebihnya saya bekerja di rumah ditemani atau diganggu tepatnya oleh anak-anak saya.

Di Minggu pertama, saya lumayan kerepotan dengan tingkah Nyala yang selalu minta perhatian. Tapi ini pembelajaran buat kami berdua. Nyala harus mengerti bahwa meski saya di rumah, saya harus bekerja. Di lain pihak, saya harus bekerja sangat efektif, sehingga ketika gangguan datang, pekerjaan bisa tetap selesai.

Saya beruntung sekali memiliki Pagi yang sudah sangat mengerti keadaan saya. Dia senang sekali saya punya banyak waktu di rumah dan menemaninya belajar dan selalu di rumah sebelum matahari terbenam. Pagi adalah partner saya. Ketika dia ada, dia selalu mengajak main Nyala, sehingga distraksi pekerjaan jadi minimal.

WhatsApp Image 2018-03-22 at 14.22.06

Lucunya kemarin, ketika hasil ujian tengah semester dibagikan, saya mendapati jawaban Pagi tentang tugas Ayah membantu Ibu menjaga anak-anak disalahkan gurunya. Padahal, itu adalah kondisi yang dia dapati sehari-hari ketika saya masih bekerja kantoran. Pertama kali membaca jawabannya, saya tertawa terbahak-bahak sampai membuat Pagi bingung. Tapi kemudian, saya menulis surat kepada gurunya untuk menjelaskan duduk perkara di balik jawaban Pagi.

Lucu sekali mencerna jawaban-jawaban Pagi mengenai profesi saya dan Kelik. Dari dulu, Pagi sudah tahu saya adalah wartawan. Dia sempat protes ketika saya pindah kerja. Sampai sekarang, dia juga belum ngerti saya pindah kemana waktu itu dan jadi apa. Saat ini bisa dikatakan, saya kembali ke selera asal: jurnalisme, sesuatu yang membuat anak saya itu girang bukan kepalang.

Status ibu bekerja dari rumah ini memang nanggung yah. Kelihatannya seperti kemewahan, tapi kalau tidak disiasati bisa merepotkan karena jam kerja yang tidak jelas. Saya bisa saja kalau tidak pintar mengatur waktu bisa kerja seharian. Untuk itu, manajemen waktu penting sekali.

Saya mengetik ini setelah menutup laptop kerja saya dua jam yang lalu. Saat ini, anak-anak masih bangun dan sibuk menggambar. Sebuah kebahagiaan kecil yang tak ternilai.

Terimakasih semesta untuk itu.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

No Responses to “Bekerja dari rumah, dekat dengan anak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: