psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Belajar bersama Pagi dan Nyala

WhatsApp Image 2018-06-11 at 19.48.54

Senyum Pagi.

Masih teringat suara tangis serakmu begitu keluar dari kandunganku, Pagi, karena terlalu lama di sana. Sekarang dirimu sudah hampir tujuh tahun. Sampai detik ini juga, kamu buat hidupku jungkir balik. Sekarang hampir jam 11 malam waktu Singapura, kamu sudah terlelap di sampingku dan aku sibuk merangkai kata-kata untuk mengingatkanku begitu diri ini bersyukur atas kehadiranmu.

Banyak bilang kamu anak baik. Tidak hanya gurumu, teman-temanmu, keluarga besar, bahkan orang yang baru mengenalmu. Bangga sekali rasanya ketika kamu ikut retreat menginap untuk pertama kalinya. Deg-degan Ayah dan aku melepasmu karena dirimu baru kelas satu. Seingatku, aku baru diijinkan menginap di luar rumah kelas tiga. Ketika kami menjengukmu tidak hanya satu-dua yang memujimu. “Pagi, dia disiplin sekali,” “Pagi, dia cepat sekali dan cekatan” “Pagi, anak yang rajin,” Aah, I must have done something right.

Tapi semua itu bisa luntur begitu ingat betapa susahnya mengatur dirimu. Setiap hal yang aku suruh, harus diulangi berkali-kali, sampai akhirnya kamu melakukan apa yang disuruh. Belum lagi kalau bersama dengan adiknya. Entah sudah berapa kali aku bilang untuk tidak mengganggu adikknya dan tidak membuatnya menangis, tapi tetap saja dilakukannya. Seperti sore ini, di acara jalan-jalan kami, tak henti-hentinya dia mengganggu adiknya dan membuatnya menangis.  Arrgh.  I must have done something wrong.

Aku merasa terkadang diri ini terlalu keras. Istilah sekarang tigermom. Iya apalagi kalau urusan pelajaran, saya bisa sangat tegas. Setiap ujian, saya merasa lebih stres ketimbang anaknya. Diri ini merasa menyiapkan anak menjelang ujian adalah wajib hukumnya. Dan anehnya anak ini selalu minta belajar dengan ibunya ketimbang ayahnya yang lebih santai.  Dibanding ayahnya, saya sangatlah galak, terkadang saking tidak sabarnya, saya pun main tangan, duh entah itu menyentil,  menyubit atau memukul. Saya tahu seharusnya saya tidak melakukan itu dan betapa menyesalnya saya setelah melakukannya dan meminta maaf. Saya bukan ibu yang sempurna, yang masih belajar sabar dan memahami anak.

Lalu tiba-tiba, saya dapat kabar dari orang tua murid yang lain, kalau dirimu ranking satu di kelas. Apa-apaan ini. Sekolah Pagi kebetulan tidak ada sistem ranking. Tapi dalam pembicaraan santai dengan ketua wali murid di kelas Pagi, tiba-tiba dia bilang: “Selamat yah Pagi rangking satu,” Sampai disebut juga nilai-nilai keunggulan Pagi dibanding teman-teman yang lain. Pagi memang belum terima rapot, karena keburu keluar kota. Well…

Di sini saya belajar bahwa bukan saya saja yang belajar jadi ibu yang baik, tapi Pagi pun juga belajar menjadi anak yang baik. Sejauh ini mungkin proses dia lebih baik dibanding saya. Tapi kita sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik.

Nyala Cakrawala.

Dia bukan anak yang mudah. Dia lebih keras kepala dibanding kakaknya. Jika dia memiliki keinginan dia harus mendapatkanya. Sering kali dia tidak mau mendengar. Dia bisa tantrum sampai satu jam dan tidak ada yang bisa menenangkannya sampai dia sendiri ingin diam.

Fiuuh…tantangan yang benar-benar berbeda. Saya sering kali harus dibuat bebal. Tidak punya pilihan lain kecuali mendengarkan apa maunya.

Sampai kemudian saya mengerti bahwa Nyala punya caranya sendiri untuk mendengarkan orang lain. Saya bisa melihat ini dari dua hal yang berhasil dilakukannya.

Nyala berhasil melakukan toilet training lebih dini dibanding Pagi. Bahasa yang digunakan adalah “Eek” itu bisa berarti buang air besar ataupun kecil yang penting harus cepat-cepat ke WC. Nyala sudah jarang sekali pake popok, terkadang dia menolaknya. Meski yah kadang-kadang masih kecolongan, tapi rata rata suksesnya masih lebih besar. Dia melakukannya sebelum menginjak 2.5 tahun.

Menyapih. Sampai hari ini Nyala sudah tidak menyusui selama 2 minggu. Saya rasa program penyapihan saya dengan Nyala lumayan mulus. Meski lebih lambat dari Pagi yang berhenti ASI 2 tahun 1 bulan, Nyala sangatlah lancar. Nyala berhenti menyusui tepat 2.5 tahun. Beda dengan Pagi yang memaksa saya harus  berbohong kalau saya sakit, nenennya sakit untuk membutanya berhenti ASI. Saya hanya bilang padanya Nyala sudah besar, Nyala sudah tidak boleh nenen, karena sudah mau masuk sekolah, nanti ditanyain gurunya gimana. Saya tahu jika saya memaksanya, dia tidak akan mendengaraannya karena sikapnya yang keras kepala. Dan kali ini  dia mendengarkannya.  Dia mengerti. Sampai sekarang, ketika saya sodori, dia selalu menolak. Sedih juga. Tapi ini pilihannya dan saya harus menghormatinya.

Saya mencoba memahami sekali lagi, saya sedang belajar, Pagi sedang belajar dan Nyala sedang belajar juga agar menjadi lebih baik. We are a good team. Love you, kiddos.

 

WhatsApp Image 2018-06-13 at 21.18.34

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

No Responses to “Belajar bersama Pagi dan Nyala”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: