psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Hidup dan mati whatsapp group-mu

Coba jika diperkenankan bertanya: berapa banyak whatsapp (WA) group yang Anda punya saat ini?

Saya bergabung dengan sekitar 10 WA grup. Setidaknya 3 group untuk urusan pekerjaan. Tapi ada juga group dengan kantor lama (tidak usah disebut yah namanya heheehe). Iya, tampaknya saya golongan orang-orang yang tidak gampang move on.

Ada beberapa group dengan teman-teman terdekat. Meski ada kalanya akhirnya mereka saling bersinggungan karena banyak di antara sahabat saya yang akhirnya berteman juga. Dunia memang kecil, saudara-saudara.

Lalu ada juga group yang tidak terelakan. Ini macam group keluarga dan juga group ibu-ibu anak-anak sekolah. Mau enggak mau, saya kudu ikutan. Apalagi kaitannya dengan sekolah anak saya. Demi anak pokoknya.

Sampai saat ini saya masih bisa menghindari beberapa whatsapp group. Entah sampai kapan saya tidak tahu yaah.  Yang jelas, saya biasanya menolak setiap orang yang memasukkan no. saya tanpa persetujuan terlebih dahulu.

Saya sebenarnya sempat heran kenapa orang senang banget bikin whatsapp group. Apakah ini hanya di Indonesia saja?

Saya pernah suatu ketika agak gusar dengan relasi yang ada dibentuk di sana, semacam jadi formal dan basa-basi demi pengakuan. Busuk lah. Saya kangen dengan pembicaraan yang personal, intim dan memikat hati

Terkadang saya merasa betapa  WA ini begitu menyita waktu kita. Kalau dulu kita bisa tidak balas sms atau tidak angkat telpon. Tapi pesan whatsapp? mmm…

Pernah pengin sekali punya Hp jadul yang tidak bisa buat WA. Tapi adanya saya malah menyusahkan orang-orang yang ingin menghubungi saya, apalagi masalah pekerjaan yah.

Entah kesurupan apa, saya pun pernah mengatakan rencana saya untuk undur diri dari beberapa WA group. Reaksinya beragam. Tapi yang paling epic adalah rekan saya sendiri, Odit, yang bilang saya: sombong banget sih kamu.

Langsung saya ngakak deh. Emang gaya banget nih Ika.

Meski saya mengeluh, saya mengakui tidak bisa lepas dari WA. Apalagi kalau urusan koordinasi pekerjaan atau mengucapkan hari raya, yang tentu jauh lebih efisien jika kita mengucapkannya di group.

Semoga ada hidayah turun yang bisa memandu saya langkah mana yang benar. Atau mungkin tutorialnya?

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

No Responses to “Hidup dan mati whatsapp group-mu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: