psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Nostalgia di kopaja

IMG_20180927_122041

Tanggal 27 September lalu–iya saya ingat benar tanggalnya–saya naik angkot lagi. Entah kapan terakhir kali saya naik angkot. Seingat saya sudah lama sekali.

Waktu itu naiknya pun tidak direncanakan sama sekali. Jadi saya ingat sekali waktu itu saya sedang ada janjian di Kantor Berita Radio (KBR) di jalan HOS Cokroaminoto. Sehabis dari sana, saya dan teman-teman mampir ke mie ayam yang menurut saya lebih enak dari mie ayam Ambon yang legendaris itu. Setelah kenyang, saya pun berencana balik. Tapi bingung karena posisinya yang di tengah-tengah memungkinkan saya untuk naik apa saja dari sana. Tiba-tiba Kopaja P20 jurusan Senin-Lebak Bulus datang. Langsunglah saya spontan pamit dan naik Kopajanya.

Begitu naik, saya serasa dibawa ke lorong mesin waktu, di masa-masa muda (hihihi, iya saya memang sudah menua) masih lincah naik turun angkutan umum. Meski macet dan umpet-umpetan, saya menilai naik angkot semacam mencerahkan. Ketemu banyak orang, memperhatikan gerak-gerik mereka, menikmati lalu lintas di luar dan di dalam kendaraan:  para penjual dengan aneka rupa dagangan mereka, kemudian pengamen dengan gaya dan musik yang  jika beruntung bisa menghibur hati.

Meski bising, macet dan belum lagi asap yang ke mana-mana, naik angkot juga menenangkan buat saya. Saya masih ingat betapa bisa tertidur di bis dari Kreo sampai Monas itu adalah kemewahan yang tiada duanya. Atau tidur siang sejenak dari Kebayoran sampai Palmerah.

Tapi sesudah hamil dan punya anak, saya semakin jarang naik angkutan umum. Rasanya tidak tega membawa anak-anak kecil di tengah-tengah lautan kendaraan yang semrawut di Jakarta. Demi kenyamanan, saya pun membeli kendaraan yang akhirnya juga saya pakai hilir mudik rumah ke kantor dan ke rumah lagi.

Dua tahun di Australia dengan segala kenyamanan yang ditawarkan angkutan umum mereka, membuat saya sedikit takut mencoba gagah naik angkot lagi. Tiba-tiba hamil lagi dan punya anak kedua, hubungan saya dan angkot pun layaknya mantan yang putusnya tidak baik-baik. Kemudian ada ojek daring dan juga kereta–iya sekarang saya suka naik kereta ke mana-mana, semakin jauhlah hubungan saya dan kopaja.

Hingga kemarin itu. Saya tidak mengharapkan apa-apa. Keputusan saya saat itu sangat spontan. Saya tidak mengharapkan pencerahan atau ketenangan jiwa ketika memutuskan naik kopaja waktu itu. Saya penasaran apa yang berubah yah setelah sekian lama. Waktu itu saya naik kopaja biasa–bukan yang AC dan dijadikan pengumpan bus Transjakarta. Tidak banyak yang berubah. Masih kusam, kotor dengan kursi-kursi dan karat-karat disana-sini. Sama seperti bus Metromini 69 yang membawa saya pulang dari Bulungan ke Kreo ketika saya masih SMA. Iya, pengalaman bus pertama saya terjadi ketika saya masih SMA.

Dua puluh tujuh tahun kemudian, bohong rasanya ketika saya bilang saya merasa damai dan tenang ketika naik angkutan yang sejenis. Di kopaja itu, saya celingak-celinguk melihat keadaan sekitar sambil membawa erat bawaan saya. Perbedaan yang jelas adalah saat itu adalah penumpang lumayan sepi, padahal perjalanan terjadi di siang bolong. Ada sekitar 6 penumpang waktu saya naik. Lalu lama-kelamaan satu-persatu penumpang menghilang. Hingga hanya saya dan satu penumpang sebelum saya akhirnya turun di Poins Square Lebak Bulus. Ketika itu saya ingin membeli beberapa barang untuk kebutuhan piknik ke luar kota. Setelah selesai, saya pun saya bergegas membuka aplikasi taksi daring. Cukuplah nostalgia saya dengan kopaja hari itu.

Hingga 9 September yang lalu, saya pun mengulangi nostalgia itu. Lagi-lagi saya ada acara di KBR. Ketika hendak pulang, saya sudah berencana naik Trans Jakarta saja, mengingat pengalaman kurang berkesan kemarin itu. Tapi teman saya tiba-tiba memberi tahu kalau saya bisa naik bus pengumpn dekat dari situ yang salah satunya kopaja juga namun diberi fasilitas AC. Jadilah saya naik kopaja ber-AC melintasi jalur khusus busway. Saya tidak banyak memperhatikan sekitar meski memang lumayan penuh ketika itu. Ada bau aneh yang buat saya tidak nyaman. Aarrgh. Untungnya kurang dari satu jam saya sudah sampai di terminal Lebak Bulus. Begitu turn, ketika hendak memesan ojek daring, saya melihat ada angkot 106 ngetem. Aah, lagi-lagi saya penasaran. Lalu melompatlah saya naik ke dalam angkot yang membawa saya pulang ke rumah tercinta.

IMG_20181009_143654

 

 

 

 

Advertisements

No Responses to “Nostalgia di kopaja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: