psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Ke Jerman untuk ketiga kalinya

IMG-20181107-WA0024

Setelah lulus sekolah S2 di Australia, saya rencananya mau mendapatkan fellowship dulu sebelum akhirnya lanjut ke S3. Ah yak ampun, ternyata tidak semudah yang saya kiri. Mmmm..pelet saya sudah tidak berkhasiat lagi tampaknya hahaha.

Mungkin juga saya terlalu pede daftar fellowship yang keren-keren. Saya juga pengin banget melebarkan sayap ke Amerika yang katanya adalah puncak segala bentuk jurnalisme. Tapi sekarang kayaknya hal itu masih mimpi. Dari beberapa yang saya lamar, semuanya ditolak dengan sukses. Hiks.

Lalu ketika melihat dua tawaran fellowship ke Jerman dalam waktu yang berdekatan. Saya pun iseng-iseng mencoba karena topiknya yang menarik. Lagian, sahabat saya Virtri baru pindah dengan keluarganya ke Berlin. Bisalah saya mampir main nantinya.

Setelah beberapa bulan, saya pun dapat kabar kalau saya terpilih untuk fellowship yang pertama. Well, pada intinya sih kunjungan liputan ke Jerman hanya saja dibuat sayembara ke seluruh wartawan sedunia. Yang proposalnya paling okay-lah yang terpilih. Senangnya hati saya karena saya terpilih dari 15 wartawan dari seluruh dunia. Dan beda dengan fellowship yang pernah saya ikuti, saya juga berkompetisi dengan wartawan dari negara-negara maju. Angkatan saya ada wartawan dari Finlandia dan Ceko juga.

Tidak beberapa lama, saya mendapat kabar bahwa saya mendapat kesempatan dari penyelenggara Fellowship yang ke-2 bahwa meskipuan mereka sudah memilih fellow tahun ini, tapi mereka merasa tertarik dengan proposal saya. Mereka bilang akan mencari dana tambahan untuk mendatangkan saya. Dan dapatlah mereka. Singkat cerita, saya akan pergi selama 3 minggu untuk menghadiri dua acara itu di Jerman. Wuhuuu.

Senang tapi juga sedih karena harus meninggalkan anak-anak selama 3 minggu. Keliek pun harus mendatangkan bala bantuan mamahnya dari Yogya untuk mengasuh anak-anak selama saya pergi. Campur aduk emosi ini saya akan tulis di tulisan yang lain saja yah. Tulisan ini akan lebih fokus pada pengalaman saya selama di Jerman dan betapa berubahnya negara ini selama kurun waktu satu dekade.

Saya pertama kali ke Jerman 10 tahun yang lalu untuk fellowship juga (sebut saja saya fakir fellowship). Tahun 2008, Saya pergi dengan wartawan Indonesia yang lain, Priska yang sekarang justru jadi sahabat dekat. Kami tinggal 6 minggu di kota Hamburg dan di antaranya kami juga mengunjungi Berlin selama seminggu. Kami pergi waktu itu ketika musim panas, yang masih dingin juga buat ukuran orang tropis seperti saya.

Kunjungan saya ke Jerman yang ke-dua terjadi tahun 2010. Saya datang untuk fellowship yang lain selama dua bulan. Saya datang bersama seorang wartawan Indonesia yang lain, termasuk bos saya di The Jakarta Post.

Kunjungan itu sangat berbeda karena kami datang waktu musim dingin. Sebelum saya mendarat di Berlin Tegel Airport, seminggu sebelumnya suhu mencapai minus 10 derajat. Busyeeet.

Kesan saya dari kunjungan-kunjungan itu kurang lebih sama. Orang Jerman itu tepat waktu sekaliii. Saya ingat bahwa sampai hitungan menit. Jadi gak masalah jika mereka bilang janji di lobby 9.34…Selain itu saya mendapati orang Jerman juga kaku-kaku. Apalagi kalau bertemu di jalan. Sedikit sekali yang bisa berbahasa Inggris. Dan kebanyakan mereka tidak bisa joget hahaha.

Lalu sepuluh tahun kemudian saya datang kembali. Perjalanan kali ini diawali dari  Frankfurt, lalu saya muter muter ke Stuttgrat, Karlshure dan Saarbrucken. Seminggu kemudian,  tibalah saya kembali ke Berlin. Baunya masih sama dan selama perjalanan bis ke apartemen Virtri, saya mencoba mengingat-ingat kembali memori saya 8 delapan tahun yang lalu. Dan saya baru sadar, ini musim gugur pertama saya di Jerman.

Selama kurang lebih dua minggu di Jerman, saya mencatat ada beberapa perubahan yang lumayan:

  1. Jerman jadi lebih ngaret yah.

Saya kaget juga dengan penemuan ini. Di dua event yang saya datangi, hampir semua acara molor. Yang saya maksud di sini bahkan dalam hitungan menit yah karena setahu saya Jerman dulu sangat tepat waktu. Apalagi waktu di Stuttgart, kami bisa molor sampai 15 menit. Ternyata hal itu biasa di Stuttgart yang lalu lintasnya padat sekali dikarenakan jumlah mobil yang banyak. Maklum kota ini tempat beberapa pabrik mobil terkenal, seperti Prosche dan Mercedes.

2. Jerman jadi lebih ramah

Lebih banyak orang ramah dan bisa berbahasa Inggris. Kesan saya ini bertahan sampai saya pulang dalam perjalanan ke airport. Saya berkenalan dengan seorang bapak-bapak yang juga dalam perjalanan ke airport. Dia orang Jerman yang anak-anaknya tinggal di luar negeri. Kami ngobrol cukup lama ketika itu. Waktu saya dan Virtri jalan-jalan pun, banyak orang-orang yang hangat menyapa. Mmmm, tapi apa ini karena faktor Kelana, anak Virtri yang juga jalan-jalan dengan kami yaa…

3. Karena kakunya orang Jerman, dulu saya jarang sekali melihat orang bermesraan di tempat publik. Beda dengan di Italia atau Paris. Tapi kemarin saya mendapati beberapa pasangat dan saya juga menemukan sepasang gay. Aah sukaaak.

Tiga minggu mungkin waktu yang sebentar, tapi tidak bagi saya. Menjelang hari-hari terakhir di Berlin, saya sudah kangen akut dengan anak-anak. Jiwa saya sudah ada di Jakarta, begitu kata Virtri. Mungkin benar juga.

Beda dengan 8 delapan tahun yang lalu, ketika saya begitu berat meninggalkan Berlin. Saya ingat sekali menyempatkan diri jalan-jalan ke Alexander Platz menemukan tutup got cantik khas Berlin dan mengambil foot selfie. Setelah itu, saya jalan-jalan mengitari daerah sekitar sambil berpikir apakah saya akan kembali lagi?

Mengingat hal itu, saya kemudian berpikir ternyata bukan hanya Jerman yang berubah tapi saya pun juga berubah.

4. Jerman jadi lebih ramah lingkungan?

Ini melihat banyak sekali restoran vegan di mana-mana. Beberapa orang Jerman yang saya temui pun mengakui mereka menjadi vegan. Beda sekali dengan waktu saya datang sebelumnya di mana saya diajak ke restoran yang banyak dagingnya. Sekarang kalau ke restoran pasti di tanya mau menu vegetarian atau yang biasa. Ini juga saya perhatikan dari banyak restoran vegan berseliweran di mana-mana di Berlin. Beda dengan kota-kota lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

No Responses to “Ke Jerman untuk ketiga kalinya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: