psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Jalan-jalan, sendiri lagi

IMG_20181103_160023

 

Setelah resmi jadi ibu dua anak, agenda jalan-jalan sendiri (atau lebih dikenal dengan istilah solo travelling) bisa dihitung dengan jari. Saya dan anak-anak itu sudah jadi satu paket, ke mana saya pergi, pasti anak-anak ikut. Kecuali untuk urusan kerjaan yah, saya biasanya akan selalu bersama anak-anak. Bahkan waktu dengan Pagi dulu, saya sering bawa dia untuk urusan kantor.

Bepergian sendirian tanpa anak-anak buat seorang ibu memang bisa jadi sebuah dilema. Apalagi hidup di masyarakat yang budaya patriarkinya sangat kuat yah. Istri seharusnya di  rumah bersama anak-anak, yang pergi yah seharusnya laki-laki. Untungnya lingkungan dekat saya tidak ada yang pernah berujar seperti itu, atau saya yang gak pedulian. Tapi untungnya punya suami yang selalu mendukung dan dengan senang hati mengurus anak-anak sementara istrinya jalan-jalan..ehm…kerja maksudnya.

Tapi mungkin yang berat meninggalkan anak-anak, adalah kebersamaan yang sudah menjadi rutinitas jadi hilang. Kesempatan untuk menyaksikan saat-saat bersejarah pencapaian anak-anak pun bisa jadi hilang. Hati rasanya mencelos dan bolong. Setiap saya bepergian sendirian, saya selalu berujar “Wah, coba Nyala dan Pagi bisa ikut dan mengalami apa yang bisa saya lihat, rasakan dan nikmati.” Sedih rasanya kalau ingat itu. Perasaan merasa “bersalah” itu pun muncul ketika harus ninggalin anak sebentar bersama ibu saya sewaktu kami liburan ke Singapura karena saya harus bertemu dengan teman.

Tapi tidak bisa dipungkiri, hati pun juga senang ketika bisa cuti sejenak jadi full time mom. Ini adalah momen buat saya untuk men-charge diri saya sepenuhnya dengan pengalaman-pengalaman baru dan pengetahuan baru-baru. Bepergian sendiri adalah salah satu me-time yang berharga bagi saya. Saya bisa menikmati sesimpel pergi ke kantor dan bekerja di kantor. Atau itu kenapa saya suka jalan-jalan pagi buat olahraga. Itu adalah me-time yang paling sederhana. Ketika me-time, saya biasanya “ngobrol” dengan diri sendiri tentang rencana-rencana saya tentang ide tulisan dan banyak hal.

Dilema itu datang belum lama ini ketika saya harus pergi tiga minggu ke Eropa. Jauh-jauh hari saya sudah bilang ke suami, dan dia okay saja. Meskipun ini adalah waktu terlama saya meninggalkan anak-anak. Catatan terlama saya pergi meninggalkan anak itu 10 hari ketika saya harus liputan ke London. Waktu itu cukup menantang juga, karena Nyala belum setahun, jadi saya harus pergi memompa ASI di sela-sela kegiatan. But I made it.

Sekarang tiga minggu. Selain kunjungan kerjaan, saya juga mengatur waktu untuk jalan-jalan dan mengunjungi teman-teman di sana. Saya pergi mengunjungi teman dan sahabat di beberapa kota dan negara. Saya sempat tinggal lama dengan Virtri, sahabat saya, dan keluarga mungilnya di Berlin. Virtri mempunyai seorang anak lucu bernama Kelana, dan sukses membuat saya beberapa kali latah memanggilnya Nyala. Mungkin itu tanda saya kangen dengan Nyala.

Waktu saya solo travelling adalah ketika mengunjungi Budapest-Slovakia dan Polandia dalam sekali jalan. Itu semua terjadi dadakan saya juga tidak menyangka bisa seperkasa itu sebenarnya. Saya berangkat dari Berlin hanya berbekal tiket pesawat Berlin-Budapest dan pesanan menginap di sebuah apartemen di Budapest. Ini mungkin bawaan sering jalan-jalan sama anak-anak yang terkadang memang tidak bisa merencanakan segala-sesuatunya amat rigid. Jadinya banyak manuvernya. Ketika sampai Krakow, Polandia, kota yang cantik itu tetap tidak bisa membuat saya betah berlama-lama, maunya balik segera ke Berlin dan pulang ke Indonesia.

Hari-hari terakhir saya di Berlin pun saya tampak setengah hati, setengahnya sudah mau balik ke Indonesia. Mungkin tiga minggu terlalu lama? Mmm…

Tapi mungkin sayanya yang terlalu lebay, orang-orang rumah bilang anak-anak manis ketika saya tinggal.  Nah lhooo…apa mesti ditinggal mulu supaya manis selalu. Atau ini berarti, akunya ajah yang gak becus ngurusin anak? abis kalau sama aku, pasti ada masalah…hahaha

Aduuh doaku sih meskipun jarak memisahkan kami, saya ingin anak saya belajar bahwa perempuan itu bisa mewujudkan dunianya sendiri tanpa harus selalu bergantung ke anak-anak dan suaminya. Jadi perempuan yang cerdas dan mandiri dan mampu meraih cita-citanya sampai ke negeri jauh. Dan satu lagi doaku, semoga di kesempatan yang lain, kami bisa jalan bersama-sama menaklukkan dunia. Amiiiin.

Advertisements

No Responses to “Jalan-jalan, sendiri lagi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: