psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Cerita dari rumah sakit

Semenjak akhir Mei, kunjungan rumah sakit menjadi sesuatu yang rutin dalam kehidupan saya.

Penyakit Keliek yang membutuhkan perawatan intensif membuat saya menjadi pengunjung tetap rumah sakit.

Leukemia membutuhkan perawatan yang intensif. Beda dengan jenis kanker lainnya yang bisa melakukan kemoterapi hanya beberapa hari saja, penderita leukemia bisa dirawat hingga sebulan di rumah sakit untuk sekali kemoterapi.

Mau tidak mau, sebagai carer, saya yang harus selalu menemani Keliek dalam perawatannya, harus kerap setor diri ke rumah sakit. Awalnya saya harus menemaninya untuk menginap di rumah sakit, tapi perawatannya yang membutuhkan ruang steril dan mengharuskannya rawat inap sendiri, membuat saya paling mengunjungi 2-3 hari sekali hanya sekadar untuk bertukar kabar lewat jendela pintu, menemui dokter dan mengambil cucian kotor.

Selebihnya saya ke rumah sakit ketika Keliek harus konsultasi atau mengurus BPJS.

Wajah-wajah asing menjadi begitu familiar, sapaan tiba-tiba di rumah sakit pun tidak terhindarkan, dari dokter, pasien lainnya, keluarga pasien, bahkan hingga petugas kebersihan.

Bersyukur sekali kami bisa berada di rumah sakit ini, meski dengan segala keterbatasannya, Keliek masih bisa menjalani perawatan dengan nyaman.

Saat-saat terberat adalah ketika Keliek harus di ICU. Selama dua minggu, saya harus bolak-balik ke Rumah Sakit hampir tiap hari untuk jaga-jaga apabila ada kabar terbaru tentang kondisinya.

Bersama-sama dengan keluarga pasien lain, saya berdiam dalam ruang tunggu berdinding kaca yang bisa dengan jelas melihat jalan jendral sudirman dari ketinggian lantai 29.

Suasana sedih tak terelakkan ketika ada keluarga yang mendapatkan kabar duka begitu dipanggil dokter. Saya yang tidak mengenal mereka pun ikut merasakan kehilangan itu. Beberapa hari di ICU, saya pun mulai berkenalan dengan beberapa keluarga pasien di sana, berbagi cerita dan semangat untuk bisa sama-sama kuat dalam menjalani semua ini.

Semua itu pengalaman baru yang saya berharap tidak pernah saya alami lagi. Rasa cemas, gelisah, dan penuh syukur selalu datang silih berganti membawa saya dalam roller coaster emosi yang sangat melelahkan.

Dan pada 22 Desember yang lalu, saya harus membawa Keliek ke UGD karena kondisinya drop. Di masa pandemi ini, setiap pasien harus menunjukkan tes PCR negatif terlebih dahulu sebelum bisa masuk rawat inap. Jadinya saya dan Keliek harus tidur di UGD dulu sebelum masuk ke ruang rawat inap. Bunyi mesin-mesin non-stop membuat saya tidak bisa tidur, apalagi memang tidak ada space untuk tidur.

Tapi di tengah-tengah kelelahan dan rasa penantian itu, saya bertemu dengan teman-teman baru. Ada dokter yang baik sekali dan berharap lain kami bisa ketemuan di Star Buck bukan di rumah sakit. Lalu ada perawat yang tampak selalu riang meski pasien IGD ada yang rewel dan susah diatur. Saya pun bertemu dengan Mbak Ely yang suaminya juga divonis mengidap leukemia bulan Oktober lalu. Hingga saat ini, kami selalu ngobrol di whatsapp, menanyakan kabar, update suami, atau janjian ketemuan di selasar rumah sakit hanya untuk berbagi beban dan cerita.

Cerita rumah sakit ini merupakan babak berat dalam hidup saya ketika harus menghadapi banyak ketidakpastian di sana, tapi saya berharap ada segelintir harapan muncul dari pertemuan-pertemuan dengan orang asing yang akan membawa saya ke akhir cerita yang indah.

No Responses to “Cerita dari rumah sakit”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: