psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Menenangkan diri bersama buku-buku

Saya baru menyadari bahwa selama menjalani bulan-bulan terberat dalam hidup saya, buku adalah penolong yang paling dekat dengan saya, bahkan hingga saat ini. Benar-benar paling dekat, soalnya mereka tepat berada di rak buku di samping tempat tidur saya.

Malam-malam ketika saya tidak bisa tidur dengan rasa khawatir yang hilir mudik, dan Keliek di rumah sakit, buku-buku selalu menemani lembur saya. Ketika rasa gelisah menyapa dan mata tidak kunjung tertutup, saya akan ambil buku untuk meredakan sedikit gemuruh di otak saya. Mulai dari novel-novel ringan hingga bacaan-bacaan non fiksi yang beberapa halaman biasanya langsung bikin ngantuk.

Untuk bacaan non-fiksi biasanya saya sangat pemilih sih. Saya harus memastikan bahwa pengetahuan yang ada dalam buku itu bisa berguna dalam hidup saya. Tentunya selain alasan ekonomis yah, buku-buku non fiksi yang bagus biasanya lebih mahal.

Bacaan awal saya ketika awal-awal Keliek di rumah sakit adalah The Emperor of All Maladies karya Siddharta Mukherjee, seorang dokter dan ahli kanker dari Amerika Serikat. Bukunya tebal, subyeknya tidak ringan, tapi untungnya si Mas Siddharta itu adalah pencerita yang handal sehingga membacanya pun enak. Berkat membaca buku itu, saya jadi tahu banyak tentang sejarah kanker dan kemajuan-kemajuan dalam pengobatannya. Lumayan buat amunisi bahan diskusi dengan dokter-dokter yang saya temui. Di buku tersebut juga banyak selipan cerita-cerita personal pasien Mas Siddharta, ada yang menyedihkan, tapi ada juga yang memberi harapan terutama terkait dengan jenis-jenis pengobatan yang ada. Saya cukup optimis bahwa penemuan obat kanker hanya masalah waktu saja. Hanya saja memang Keliek memang tidak cukup beruntung untuk mendapatkannya. Tapi semoga kelak obat kanker segera ditemukan, sehingga tidak ada lagi keluarga yang harus menangis karena kehilangan anggota keluarganya karena kanker.

Selepas Keliek meninggal, saya kemudian mencari buku-buku tentang grief. Pilihan awal saya jatuh pada buku Option B karya Sheryl Sanberg, COO Facebook, yang tiba-tiba diitinggal mati suaminya. Dari buku itu, saya belajar banyak. Kebetulan Sheryl juga punya dua anak yang sama-sama masih kecil, sehingga saya merasa bisa relate dengannya. Khususnya tentang how to deal grief with your children.

Saat ini saya sedang membaca buku yang sangat menarik karena berusaha membahas sisi lain dari rasa duka, persis seperti judulnya The Other Side of Sadness. Buku ini berusaha memberikan perspektif yang berbeda dan sangat menarik berdasarkan riset. Dia bilang jika rasa sedih itu membuat orang lebih aware dengan sekeliliingnya. Dalam sebuah percobaan, orang yang sedang sedih lebih akurat dalam memberi jawaban dan dalam percobaan lain, orang yang bersedih lebih memiliki rasa empati dengan sesamanya. Saya tidak sabar menyelesaikan buku ini.

Tentang menghadapi rasa sedih, saya selalu bilang ke anak-anak. It is okay to be sad and I always encourage them to share whenever they are sad. Meski memang pada kenyataannya, emaknya yang lebih sering menangis. Ada satu kalimat yang saya ulang berkali-kali ke Pagi dari buku The Boy, the mole, the fox and the horse yang sangat indah menurutku. “Tears fall for a reason and they are your strength not weakness”. Saya tahu buku itu dari Eka, sahabat saya dan manisnya dia dan teman-teman kuliah kemudian patungan membelikan buku itu buat saya. Buku yang saya selalu baca berulang-ulang ketika saya tidak bisa tidur. Kalimat-kalimat pendek di dalamnya serasa mantra yang bisa menenangkan gundah gulana dalam diri.

Selain buku-buku “berat” saya pun melahap beberapa novel ringan, apa saja yang bisa membantu saya mengundang rasa kantuk. Salah satunya adalah koleksi Lima Sekawan yang saya punya, lalu juga buku-buku Agatha Christie yang ada di Kindle.

Pagi sendiri memiliki ketertarikan dengan topik grief. Dia sedang berusaha membaca buku Option B, meski seringkali harus tanya ini dan itu. Sewaktu ayahnya meninggal, Pagi kemudian menunjukkan saya buku Puno (Letters to The Sky), karya Ria Papermoon yang diberikan sahabat saya Virtri. It is such a beautiful book about losing. Pagi bilang bahwa dia merasa lebih baik ketika membaca buku itu. Saya juga baru saja memberikan Pagi dan Nyala buku yang berjudul The Invisible String yang bercerita tentang tali yang tidak terlihat tapi mampu menghubungkan kita dengan orang-orang tersayang di manapun mereka berapa.

Mungkin saya bukan orang yang ekspresif dan bisa saja menceritakan segala sesuatu, beban dan kegelisahan saya dengan nyaman kepada siapapun, termasuk orang-orang terdekat. Buku kemudian menjadi tempat pelarian dan juga pelampiasan ketika saya mati kutu ketika ingin menumpahkan seluruh perasaan lewat tulisan.

Saat ini saya juggling tiga buku sekaligus. Saya baru melakukan hal ini, biasanya saya menghabiskan satu buku dulu baru baca buku selanjutnya. Lumayan jika yang satu tidak mempan bikin ngantuk, bisa lanjut ke buku selanjutnya.

No Responses to “Menenangkan diri bersama buku-buku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: