psychopatika
the not so ordinary life of a young-at-heart mother of two and wordsmith

Jun
13

WhatsApp Image 2018-06-11 at 19.48.54

Senyum Pagi.

Masih teringat suara tangis serakmu begitu keluar dari kandunganku, Pagi, karena terlalu lama di sana. Sekarang dirimu sudah hampir tujuh tahun. Sampai detik ini juga, kamu buat hidupku jungkir balik. Sekarang hampir jam 11 malam waktu Singapura, kamu sudah terlelap di sampingku dan aku sibuk merangkai kata-kata untuk mengingatkanku begitu diri ini bersyukur atas kehadiranmu.

Banyak bilang kamu anak baik. Tidak hanya gurumu, teman-temanmu, keluarga besar, bahkan orang yang baru mengenalmu. Bangga sekali rasanya ketika kamu ikut retreat menginap untuk pertama kalinya. Deg-degan Ayah dan aku melepasmu karena dirimu baru kelas satu. Seingatku, aku baru diijinkan menginap di luar rumah kelas tiga. Ketika kami menjengukmu tidak hanya satu-dua yang memujimu. “Pagi, dia disiplin sekali,” “Pagi, dia cepat sekali dan cekatan” “Pagi, anak yang rajin,” Aah, I must have done something right.

Tapi semua itu bisa luntur begitu ingat betapa susahnya mengatur dirimu. Setiap hal yang aku suruh, harus diulangi berkali-kali, sampai akhirnya kamu melakukan apa yang disuruh. Belum lagi kalau bersama dengan adiknya. Entah sudah berapa kali aku bilang untuk tidak mengganggu adikknya dan tidak membuatnya menangis, tapi tetap saja dilakukannya. Seperti sore ini, di acara jalan-jalan kami, tak henti-hentinya dia mengganggu adiknya dan membuatnya menangis.  Arrgh.  I must have done something wrong.

Aku merasa terkadang diri ini terlalu keras. Istilah sekarang tigermom. Iya apalagi kalau urusan pelajaran, saya bisa sangat tegas. Setiap ujian, saya merasa lebih stres ketimbang anaknya. Diri ini merasa menyiapkan anak menjelang ujian adalah wajib hukumnya. Dan anehnya anak ini selalu minta belajar dengan ibunya ketimbang ayahnya yang lebih santai.  Dibanding ayahnya, saya sangatlah galak, terkadang saking tidak sabarnya, saya pun main tangan, duh entah itu menyentil,  menyubit atau memukul. Saya tahu seharusnya saya tidak melakukan itu dan betapa menyesalnya saya setelah melakukannya dan meminta maaf. Saya bukan ibu yang sempurna, yang masih belajar sabar dan memahami anak.

Lalu tiba-tiba, saya dapat kabar dari orang tua murid yang lain, kalau dirimu ranking satu di kelas. Apa-apaan ini. Sekolah Pagi kebetulan tidak ada sistem ranking. Tapi dalam pembicaraan santai dengan ketua wali murid di kelas Pagi, tiba-tiba dia bilang: “Selamat yah Pagi rangking satu,” Sampai disebut juga nilai-nilai keunggulan Pagi dibanding teman-teman yang lain. Pagi memang belum terima rapot, karena keburu keluar kota. Well…

Di sini saya belajar bahwa bukan saya saja yang belajar jadi ibu yang baik, tapi Pagi pun juga belajar menjadi anak yang baik. Sejauh ini mungkin proses dia lebih baik dibanding saya. Tapi kita sama-sama belajar untuk menjadi lebih baik.

Nyala Cakrawala.

Dia bukan anak yang mudah. Dia lebih keras kepala dibanding kakaknya. Jika dia memiliki keinginan dia harus mendapatkanya. Sering kali dia tidak mau mendengar. Dia bisa tantrum sampai satu jam dan tidak ada yang bisa menenangkannya sampai dia sendiri ingin diam.

Fiuuh…tantangan yang benar-benar berbeda. Saya sering kali harus dibuat bebal. Tidak punya pilihan lain kecuali mendengarkan apa maunya.

Sampai kemudian saya mengerti bahwa Nyala punya caranya sendiri untuk mendengarkan orang lain. Saya bisa melihat ini dari dua hal yang berhasil dilakukannya.

Nyala berhasil melakukan toilet training lebih dini dibanding Pagi. Bahasa yang digunakan adalah “Eek” itu bisa berarti buang air besar ataupun kecil yang penting harus cepat-cepat ke WC. Nyala sudah jarang sekali pake popok, terkadang dia menolaknya. Meski yah kadang-kadang masih kecolongan, tapi rata rata suksesnya masih lebih besar. Dia melakukannya sebelum menginjak 2.5 tahun.

Menyapih. Sampai hari ini Nyala sudah tidak menyusui selama 2 minggu. Saya rasa program penyapihan saya dengan Nyala lumayan mulus. Meski lebih lambat dari Pagi yang berhenti ASI 2 tahun 1 bulan, Nyala sangatlah lancar. Nyala berhenti menyusui tepat 2.5 tahun. Beda dengan Pagi yang memaksa saya harus  berbohong kalau saya sakit, nenennya sakit untuk membutanya berhenti ASI. Saya hanya bilang padanya Nyala sudah besar, Nyala sudah tidak boleh nenen, karena sudah mau masuk sekolah, nanti ditanyain gurunya gimana. Saya tahu jika saya memaksanya, dia tidak akan mendengaraannya karena sikapnya yang keras kepala. Dan kali ini  dia mendengarkannya.  Dia mengerti. Sampai sekarang, ketika saya sodori, dia selalu menolak. Sedih juga. Tapi ini pilihannya dan saya harus menghormatinya.

Saya mencoba memahami sekali lagi, saya sedang belajar, Pagi sedang belajar dan Nyala sedang belajar juga agar menjadi lebih baik. We are a good team. Love you, kiddos.

 

WhatsApp Image 2018-06-13 at 21.18.34

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
May
22

Suatu ketika saya menanyakan teman saya yang ahli bahasa Indonesia. “Passion itu padanan bahasa Indonesianya apa sih?” Tak berapa lama dia menjawab, “Renjana yang artinya rasa hati yang kuat,” Issh bagus benar dan girang rasanya hati ini menemukan kosakata yang cantik dan punya arti yang dalam.

Pekerjaan saya yang sekarang menemukan saya kembali kepada renjana saya. Beberapa waktu yang lalu, saya meng-update blog saya yang sudah terbengkalai beberapa lama. Blog ini berisi tulisan-tulisan saya selama bekerja sebagai wartawan.

Senang akhirnya bisa melihat tulisan-tulisan yang saya tulis dengan hati tersusun satu demi satu. Senang rasanya renjana itu bisa mewujud…

Sila kunjungi kumpulan tulisan saya di krismantari.blogspot.co.id

 

Apr
24

Bulan April sudah hampir usai, saya belum juga  menulis blog. Untung ada editan yang bikin mumet, jadi saya butuh jeda dan distraksi.

Dari kemarin saya kepikiran menuliskan sesuatu yang mengganggu pikiran sekitar sebulanan ini semenjak bergabung di kantor baru. Saat ini saya bekerja untuk The Conversation Indonesia, sebuah platform bagi akademisi dan peneliti untuk menulis analisa dan penelitian mereka dengan gaya populer.

Pekerjaan saya mengharuskan saya berhubungan dengan banyak akademisi lintas provinsi dan benua. Kami berdiskusi masalah ide tulisan, fokusnya dan juga bagaimana penyusunan tulisannya. Banyak dari mereka sudah PhD dan berbincang dengan mereka mengingatkan saya pada niatan saya untuk sekolah lagi.

Meski ingin sekali, sampai sekarang saya belum memiliki niat untuk bersekolah. Keinginan itu sempat membuncah ketika berhasil menyelesaikan thesis di Monash. Saya pikir kalau thesis bisa, disertasi bisa juga lah. Tapi kayaknya gak gitu juga yah. Waktu itu penulisan thesis hanya setahun, sedangkan disertasi itu bisa tiga tahun, empat tahun, lima tahun bahkan tujuh tahun, tergantung di negara mana mengerjakannya. Ibaratnya thesis itu lomba lari cepat, maka PhD itu lari marathon. Dan saya tidak yakin sanggup.

Tapi keinginan itu lama-lama pudar. Pertama, karena penginnya sih dapat fellowship kemana dulu gitu, baru fokus cari beasiswa untuk PhD. Tapi dari beberapa aplikasi yang dikirim kok belum dapat-dapat juga. Apa mungkin langsung nyari beasiswa sajakah?Kedua, saya juga lumayan malas memulai prosesnya dari mencari tema, pembimbing yang tertarik kemudian beasiswanya. Kalau dulu sih ngelamar beasiswa saja dan beres, tapi ini. Ketiga, selalu ada distraksi. Mulai dari pekerjaan dan anak-anak.

Tapi nampaknya saya harus mulai serius nampaknya. Ngobrol dengan seorang teman dari Melbourne dan kakak kelas yang kebetulan jadi narasumber saya mengingatkan saya akan beberapa hal tentang alasan lain kenapa saya bersekolah lagi.

Mengejar PhD di luar negeri bukan tentang saya saja. Saya ingin bersekolah lagi karena ingin membawa keluarga saya berpetualang lagi. Mendapatkan beasiswa untuk Phd buat saya adalah memberi kesempatan tidak hanya bagi anak-anak saya untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik tapi juga bapaknya anak-anak, supaya bisa mendapat kesempatan pekerjaan yang lebih luas.

Saya merasakan kedua manfaat itu ketika bersekolah dua tahun di Melbourne. Senyum Pagi bisa mendapatkan kesempatan bersekolah di sana sementara Ayahnya punya kesempatan untuk berkarir di sana juga. Lalu saya? datang ke kelas, menulis tugas, mencari referensi, menulis tesis 18,000 kata dan mencoba menikmati semuanya sambil terus-terusan bersyukur melihat keluarga saya diberi kesempatan yang luar biasa untuk bisa berkembang.

Ah, semoga kesempatan itu datang lagi.

 

 

 

 

 

 

 

Mar
23

Mulai pertengahan Maret lalu, saya menyandang predikat baru, yaitu Ibu pekerja di rumah (work-at/from-home mommy).  Bukan pilihan mudah setelah sebelumnya menyandang status pekerja penuh waktu di sebuah institusi bergengsi di tingkat regional. Saya sampai detik ini masih berusaha menyakinkan diri saya sendiri bahwa ini adalah keputusan yang benar. Setidaknya benar buat anak-anak saya.

Di pekerjaan saya yang baru ini, saya tidak perlu ke kantor tiap hari. Saya bisa melakukan pekerjaan di mana saja, asal ada laptop dan internet. Saya hanya ke kantor untuk rapat mingguan atau urusan insidental yang memerlukan tatap muka. Selebihnya saya bekerja di rumah ditemani atau diganggu tepatnya oleh anak-anak saya.

Di Minggu pertama, saya lumayan kerepotan dengan tingkah Nyala yang selalu minta perhatian. Tapi ini pembelajaran buat kami berdua. Nyala harus mengerti bahwa meski saya di rumah, saya harus bekerja. Di lain pihak, saya harus bekerja sangat efektif, sehingga ketika gangguan datang, pekerjaan bisa tetap selesai.

Saya beruntung sekali memiliki Pagi yang sudah sangat mengerti keadaan saya. Dia senang sekali saya punya banyak waktu di rumah dan menemaninya belajar dan selalu di rumah sebelum matahari terbenam. Pagi adalah partner saya. Ketika dia ada, dia selalu mengajak main Nyala, sehingga distraksi pekerjaan jadi minimal.

WhatsApp Image 2018-03-22 at 14.22.06

Lucunya kemarin, ketika hasil ujian tengah semester dibagikan, saya mendapati jawaban Pagi tentang tugas Ayah membantu Ibu menjaga anak-anak disalahkan gurunya. Padahal, itu adalah kondisi yang dia dapati sehari-hari ketika saya masih bekerja kantoran. Pertama kali membaca jawabannya, saya tertawa terbahak-bahak sampai membuat Pagi bingung. Tapi kemudian, saya menulis surat kepada gurunya untuk menjelaskan duduk perkara di balik jawaban Pagi.

Lucu sekali mencerna jawaban-jawaban Pagi mengenai profesi saya dan Kelik. Dari dulu, Pagi sudah tahu saya adalah wartawan. Dia sempat protes ketika saya pindah kerja. Sampai sekarang, dia juga belum ngerti saya pindah kemana waktu itu dan jadi apa. Saat ini bisa dikatakan, saya kembali ke selera asal: jurnalisme, sesuatu yang membuat anak saya itu girang bukan kepalang.

Status ibu bekerja dari rumah ini memang nanggung yah. Kelihatannya seperti kemewahan, tapi kalau tidak disiasati bisa merepotkan karena jam kerja yang tidak jelas. Saya bisa saja kalau tidak pintar mengatur waktu bisa kerja seharian. Untuk itu, manajemen waktu penting sekali.

Saya mengetik ini setelah menutup laptop kerja saya dua jam yang lalu. Saat ini, anak-anak masih bangun dan sibuk menggambar. Sebuah kebahagiaan kecil yang tak ternilai.

Terimakasih semesta untuk itu.

 

 

 

 

 

 

Feb
17

Bukan jadi Dilan aja yang berat, tapi jadi Ibu juga. Aah kemana saja saya selama ini? Mungkin karena punya partner yang plus plus, jadi saya tidak begitu merasa betapa beratnya. Tapi baru-baru saja, saya menyadari bahwa status ibu itu mendatangkan konsekuensi yang tidak enteng. Baru-baru saja, saya dihadapkan pilihan yang tidak mudah, dan sebagai ibu di dalam setiap keputusannya harus selalu memikirkan buah hati mereka dulu. Apakah keputusan yang terbaik buat mereka, apa mereka tidak apa-apa dengan perubahan yang nanti ada, bagaimana dengan kenyamanan mereka? Keputusan yang saya ambil tidak lagi berpusat kepada saya. Ini tidak mudah.

Kemarin dengan keyakinan kuat dan dukungan dari suami, saya sepakat untuk memilih bahwa keluarga yang utama. Saya belum tahu apa yang saya dapat nanti. Tapi setidaknya saya bisa memeluk anak saya lebih erat dan lama nantinya. Dan tidak ada yang salah dengan itu.

 

 

 

Jan
22

Terbangun tengah malah. Sudah dua hari ini, Nyala tidak enak badan. Dia tidak demam tapi beberapa kali mengeluh kalau perutnya sakit dan ingin muntah. Kami sudah lakukan sebisa mungkin untuk membuatnya nyaman. Saat ini, dia sedang anteng tidur setelah beberapa kali terbangun.

Di saat yang sama, Nyala juga sedang penyesuaian dengan mbak baru setelah ditinggal mbak Gini yang berencana menikah. Kami memanggil mbak yang baru Bude dan sejauh ini Nyala belum mau digendong atau disuapi Bude yang lumayan bikin repok Ayahnya yang kerja di rumah.

Di saat yang sama pula, Pagi sedang menyiapkan ulangan besok Pagi. Seperti biasa anak ujian, emaknya yang ikut rempong. Saya sempat uring-uringan karena Pagi susah sekali fokus ketika belajar sementara adiknya sedang rewel.

Duh, Gusti. Jadi emak dua anak emang ribet bener yaah. Bebannya tak berkesudahan. #lebah ih.

Saya kemarin sempat berpikir siiih…bahwa mungkin yang bikin rempong itu kita sendiri. What if we give a little bit trust to these little creature and believe in them that they can also help us weather every storm.

Bisakah kita melakukannya? mungkin dengan cara pandang ini beban yang selama ini ada jadi bisa teratasi.

Saya selalu beranggapan anak-anak kecil ini adalah makhluk tak berdaya yang tidak mengerti apa-apa dan selalu butuh bantuan dan panduan.

Weeiits, saya tahu saya salah besar. Makhluk-makhluk kecil ini adalah makhluk paling adaptif yang pernah saya temui. Saya selalu terheran-heran dengan cara Pagi bisa menyesuaikan diri dimana dan kapan saja. Dia selalu punya cara untuk bisa dekat dengan orang-orang baru. Sementara Nyala, meski dengan kepribadiannya yang cuek mampu dengan cepat menyerap hal-hal baru yang membuat saya ternganga.

Mereka telah mengajari saya begitu banyak hal hingga sekarang. Mungkin juga saatnya saya memberikan kepercayaan yang lebih kepada mereka.

 

 

Jan
01

Dua puluh enam menit di tahun yang baru. Saya barusan terjaga karena letusan kembang api yang cukup heboh. Saya, Kelik dan anak-anak sudah tidur dari jam delapan tadi. Tidak ada ritual spesial hari ini. Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya.

Meskipun demikian, tetap saja tidak bisa menghilangkan rasa deg-degan di tahun yang baru ini. Begitu banyak perubahan terjadi di akhir tahun kemarin yang saya kira dampaknya masih akan terasa sampai 2018. Salah satunya dengan pekerjaan baru yang saya dapat. Saya hanya bisa berharap atas kenyamanan buat saya dan keluarga.

Tidak akan ada rencana besar tahun ini, saya ingin semuanya mengalir saja. Cuma seperti tahun-tahun sebelumnya, saya biasanya membuat semacam janji pada diri sendiri untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu sambil berharap keputusan ini lebih baik buat diri saya.

Setelah hampir berhasil tidak belanja sandang di tahun 2016, tahun ini saya mencoba menantang hidup saya untuk

  1. mengurangi waktu online. Setelah kemarin berhasil puasa media sosial selama kurang lebih 3 bulan. Saya sepertinya ingin kembali menantang diri saya untuk tidak terlalu sering menatap layar HP. Untuk itu, saya sudah membeli buku harian yang saya tak sabar ingin isi dengan segala pernak-pernik keseharian. Tidak tahu akan seberapa konsisten saya nanti, kita lihat saja yah. Setelah berhasil menghilang dari semesta Path, saya ingin mencoba melakukan hal yang serupa di akun yang lain. Wish me luck
  2. Saya sadar betapa beruntungnya saya di tahun 2017. Lalu mengutip Presiden Kirkman di Designated Survivor, cara yang paling cantik untuk bersyukur atas semua berkat yang saya terima adalah dengan melakukan kebaikan dengan sistem Pay It Forward. Saya tidak yakin bagaimana hal ini bisa berjalan, tapi saya penasaran ingin mencobanya.

Saya rasa dua resolusi sudah cukup lah buat tahun ini. Selamat tahun baru semuanya. Sampai jumpa di tahun depan, saya ingin kembali tidur nih.

 

Dec
04

 

Tanggal 15 November lalu resmi saya bekerja di kantor baru. Kalau dari google map, lokasinya sih lebih dekat tiga kilometer dari rumah saya yang ada di Kampung Bulak, Cinangka. Namun tantangannya adalah saya harus berjuang menempuh perjalanan tersebut sebelum dan sesudah jam kerja bersama ribuan orang lainnya. Dan selama lebih kurang dua minggu bekerja di sana, ini bukanlah hal yang mudah.

Saya sudah mencoba mengantisipasi tantangan ini jauh sebelum saya masuk. Saya mencoba berangkat pagi sampai ke tengah kota untuk melihat kondisi lalu lintas di jam-jam padat. Iya, selama bertahun-tahun bekerja, saya sudah lama tidak updet dengan kondisi lalu lintas pagi ini karena kantor yang lama, jam kerjanya cukup fleksibel. Dan percobaan pertama ternyata gagal total, karena saya gagal menemukan go-car. Entah kenapa, hari itu ketika ingin memesan tidak ada satupun yang menyahut permintaan saya diantar ke pusat kota. Well, besoknya untung saja dapat. Kesimpulan saya dari percobaan itu, lalu lintasnya tidak seburuk yang saya duga. Saya bisa mencapai pusat kota sekitar satu jam. Tapi belajar dari pengalaman, lalu lintas Jakarta itu tidak ada yang bisa menebak, jadi dengan kalkulasi sedemikian rupa untuk mengantisipasi kondisi terburuk, saya harus persiapkan waktu dua jam untuk di perjalanan. Artinya saya harus berangkat jam 7 supaya bisa sampai di kantor jam 9. Saya sempat kuatir sebelumnya kalau saya harus berangkat pagi sekali karena banyak ibu-ibu bekerja di dekat rumah saya yang berangkat dari subuh. Fiuuuh, syukurlah. Menurut saya berangkat jam 7 cukup ideal, karena setidaknya saya masih bisa olahraga di pagi hari dan berangkat sambil mengantar Pagi ke sekolah.

Menjelang hari perdana masuk kerja setelah menimbang ini-itu dan ngobrol sana-sini, akhirnya saya dan suami sepakat mencari supir karena itung-itungannya lebih matematis dan praktis jika kami menyewa supir yang bisa mengantar saya setiap hari. Untung saja, kami bisa segera mendapatkannya. Mas Anggi, kami memanggilnya. Dia masih saudara tetangga dan tinggal tidak jauh dari rumah. Tugas mas Anggi hanya mengantar saya lalu balik ke rumah dan menjemput saya ketika sore. Jadi semacam supir paruh waktu. Terkadang dia juga mengantar Pagi balet. Sejauh ini kehadirannya cukup membantu saya menghadapi ruwetnya lalu lintas pagi hari dan deg-degan menunggu orderan go-car yang belum tentu dapat.

Hari pertama pun tiba. Jalanan lumayan macet waktu itu setidaknya lebih macet dari percobaan saya pertama kali karena ternyata ada perampokan bersenjata di minimarket di jalan Pondok Cabe. Ada-ada saja kan? memang lalu lintas Jakarta tak terduga. Setelah melewati macet sana dan sini, akhirnya saya sampai di kantor jam 8.30. Fiuuuh…Di hari-hari berikutnya cukup lancar ternyata, kecuali hari Senin yang sedikit istimewa. Saya berangkat jam 7 kurang dan jam 8 lebih dikit pasti sudah sampai Blok M. Pulangnya saja yang bikin males. Sejauh ini, rekor tercepat adalah 1 jam 20 menit dan terlamanya adalah Kamis kemarin menjelang long weekend. Saya menghabiskan waktu sekitar 2 jam 15 menit di jalan karena terjebak macet di daerah Fatmawati. Saya tiba di rumah jam 7.45 ketika itu padahal pulang dari kantor 5.30. tapi melihat timeline sosial media, saya tidak sendiri ternyata. Banyak yang mengeluh tentang kemacetan Jakarta yang super waktu itu. Teman saya bahkan ada yang sampai rumah jam 11 malam.

Trik andalan saya untuk mengatasi kemacetan adalah aplikasi waze. Sejauh ini sih manjur untuk menghindari titik-titik kemacetan tentu ditambah dengan insting-insting tertentu. Tapi manusia bisa berusaha, tapi lalu lintas Jakarta tetap berkehendak lain. Nampaknya tidak ada yang lebih hebat dari pesan suami saya, dia selalu bilang, “udah pasrah saja tinggal tidur dan taraaa…bangun-bangun sudah sampai rumah/kantor”. Sayangnya saya belum bisa menuruti anjurannya. Saya selalu senewen sendiri kalau ketemu macet apalagi kalau mau pulang karena tidak sabar bertemu anak-anak di rumah. Saya berharap dengan berjalannya waktu, saya mulai bisa pasrah yah karena memang tidak ada yang bisa menebak lalu lintas Jakarta. Dari semuanya ini sepertinya saya dipaksa berlatih mengelola sabar dan emosi saya di waktu-waktu seperti ini. Sebuah pesan whatsapp dari Fajar pun mengingatkan pentingnya mengelola rasa syukur kita yang menurut saya bisa dijadikan amunisi menghadapi hal-hal yang menyebalkan di jalan. Tapi yah saya masih harus terus berlatih dan berlatih supaya makin mahir.

Sebenarnya ada cara lain untuk mengatasi jarak ini yaitu saya pindah ke pusat kota. Sebenarnya pihak kantor sudah memberi fasilitas itu, tapi setelah menimbang-nimbang untuk saat ini saya lebih memilih tidak. Saya terlalu nyaman dengan rumah saya dan kampungnya. Berat juga meninggalkannya udara segar pagi hari, pohon-pohon rindang, tukang sayur favorit, mas-mas jualan yang seliwerin depan rumah dan tak lupa tetangga yang ramai. Tidak tega juga rasanya memaksa anak-anak ikut pindah bersama saya, sementara disini mereka bisa bermain dengan leluasa dengan tetangga-tetangga di halaman depan rumah atau bersepeda di masjid dekat rumah. Pagi sudah menolak untuk pindah sekolah karena dia merasa nyaman dengan sekolahnya disini. Baiklah jika begitu. Biasanya kalau saya sedang lari pagi sebelum berangkat kantor, saya berusaha mengingatkan diri saya dan merekam semua  pemandangan yang ada di sekitar saya — sedetil apapun – bunyi burung, tanah basah, pohon-pohon, sinar matahari yang hangat — bahwa untuk kemewahan inilah saya memilih untuk menaklukan lalu lintas ke Jakarta setiap harinya.

 

Nov
19

IMG_3915

Tidak ada yang menyenangkan dengan perpisahan. Tapi tidak begitu adanya dengan perpisahan di The Jakarta Post. Selama bertahun-tahun, The Jakarta Post, khususnya divisi redaksi di lantai 2, mempertahankan tradisi perpisahan yang manis dan menyenangkan untuk para wartawan yang mengundurkan diri. Biasanya orang yang akan pergi didaulat untuk mengadakan hajat kecil-kecilan mengundang semua staff di lantai tersebut. Ada makanan, minuman, sedikit pidato kemudian diakhiri dengan makan-makanan, hahaha hihihi dan tentunya foto-foto dooong. Semuanya senang dan gembira. Ini mungkin dikarenakan bahwa sebenarnya ini sebenarnya bukan benar-benar perpisahan, karena banyak sekali yang sudah keluar pun akhirnya kembali dan bekerja untuk The Jakarta Post. Contohnya mas Endy, pemimpin redaksi kami, dia sempat keluar dan bekerja di beberapa kantor berita asing sebelum akhirnya kembali mengabdi ke The Jakarta Post.

Tahun ini kebetulan banyak sekali saya menghadiri hajatan kecil-kecilan sejenis. Lagi-lagi semuanya tanpa ada tangis dan haru. Hingga tibanya saya yang harus mengucapkan selamat tinggal ke kantor yang sudah menjadi tempat saya bekerja selama 12 tahun.

Tidak terasa sudah 12 tahun lebih dua bulan saya mengabdi ke salah satu koran ternama negeri ini. Sebenarnya, jika dihitung-hitung, saya hanya “ngantor” 10 tahun, karena dua tahun saya habiskan untuk belajar S2 di Melbourne. Tapi tetap, masa jabatan saya di The Jakarta Post ini cukup rekor, dibandingkan sebelum-sebelumnya. Sebelum bekerja di The Jakarta Post, setelah lulus saya sudah pindah-pindah kerja beberapa kali. Yang pertama di Majalah Kawanku, yang hanya bertahan tiga bulan dan setelah itu Trans TV, yang hanya bertahan empat bulan saudara-saudara.

Bekerja di The Jakarta Post itu menyenangkan sekaliiiii..itu mungkin kenapa saya betah sekali. Saya ketemu mentor-mentor yang hebat dan juga teman-teman yang banyak diantaranya jadi sahabat sampai sekarang. The Jakarta Post lebih dari sekadar kantor buat saya, dia adalah sekolah tempat saya belajar banyak hal baru. Ini kemudian kenapa ketika orang resign dari The Jakarta Post mereka bilang “Saya sudah lulus dari JP”

Sebelum benar-benar memutuskan untuk lulus dari JP, saya sudah menimbang-nimbang berat keputusan saya itu karena memang tidak mudah meninggalkan tempat yang saya anggap seperti taman bermain saya sendiri. Dari wartawan yang ecek-ecek dan belum bener nulis bahasa Inggris sampai kemudian bisa menulis kolom dan laporan investigasi yang diapresiasi banyak orang adalah proses yang menyenangkan yang saya bisa alami dan saya bersyukur dan berterima kasih buat senior-senior yang tak lelah membantu saya.

IMG_3906

Saya tidak sendiri di pesta kelulusan saya. Ada dua orang lainnya yang lulus dari JP. Karena itu pesta hajatan kelulusan pun begitu meriah ada nasi liwet yang dipesan teh Lina, sekretaris kantor. Tapi sialnya, pesta ini begitu beda. Ada sedih disana yang sebenarnya saya tidak duga akan alami. Setelah mas Endy, pemimpin redaksi The Jakarta Post memberikan sepatah kata perpisahan, saya pun didaulat untuk berpidato. Sangat singkat, tapi saya tak kuasa menahan haru untuk mengucapkan selamat tinggal pada rumah kedua saya. Keadaan diperparah dengan pidatonya Bagus, rekan saya yang juga lulus. Sebelum menyelesaikan kalimat pertamanya, beberapa orang sudah mulai menangis. Aaarrghhh…tisu pun dibagikan, sementara orang-orang berpelukan. Hari itu, untungnya saya membawa Pagi yang tahu benar kantor The Jakarta Post. Saya peluk dia ketika sedih datang di saat itu. Saya sering sekali membawa Pagi ke kantor. Tak heran, jika adalah salah satu orang yang berkeberatan saya pergi meninggalkan The Jakarta Post. Bagi Pagi, The Jakarta Post adalah rumah lainnya dimana dia bisa bermain sembari merecoki pekerjaan om, tante, pakde dan budenya.

IMG_3911

Kembali ke pesta kelulusan, keadaan mulai cair ketika mas Arif, rekan saya yang lain, menyampaikan kesan pesannya. Dan setelah itu, pesta kelulusan pun berjalan normal sebagaimana mestinya, makan-makan, minum-minum dan foto-foto.

Yang sangat special saya tidak hanya mendapatkan satu pesta kelulusan tapi dua. Esoknya. adik-adik angkatan di bawah saya juga mengadakan pesta perpisahan yang tak kalah hangat di Taman Suropati. Saya pun datang lengkap bersama Kelik, Pagi dan Nyala. Kami bermain, bercanda, makan-makan dan minum-minum juga (ada Sangria), bernyanyi-nyanyi, sedikit pidato (tentu kali ini tanpa nangis doong).

Terimakasih The Jakarta Post untuk 12 tahun yang menyenangkan ini…

 

 

 

 

Nov
06

Pertama kali mengajak anak camping, yah ketika kami di Australia. Tapi camping disana lumayan enak, sudah ada dapur dan fasilitas MCK nya sangat terjaga, kita hanya perlu bawa tenda, makanan dan alat-alat masak. Terkadang, alat-alat masak sudah disediakan. camping perdana kami waktu di Uluru dan yang kedua di Victoria.

Emang dasar manja, begitu mendengar ada glamping (glamorous camping) ada di Indonesia, saya pun bersorak-sorak. Tapi, saya ingin menunggu Nyala agak gedean dikit, biar dia juga bisa menikmati. Teringat saya waktu Nyala menangis semalaman waktu kami membawanya ke pulau Macam. hahahaha…yang ada bukan liburan.

Ah akhirnya saat itu tiba. Nyala hampir dua tahun. Langsung saja saya dan bapaknya anak-anak merealisasikan rencana glamping yang tertunda.  Setelah tanya-tanya ke teman kami Virtri yang sering berglamping ria, saya memilih gunung Pancar karena lokasinya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Dua minggu sebelumnya kami baru ke Bandung, kayaknya capek harus kembali ke sana untuk Glamping karena rata-rata lokasi Glamping di Lembang, Bandung atau Sukabumi. Atas inisiatif Kelik, kami pun mengajak tetangga baru kami Silmi, Ahsan dan anaknya Sofia. Mungkin lebih seru jika memang pergi berombongan supaya anak-anak juga bisa mengeksplor alam dengan teman-temannya.

IMG_20171029_094138.jpg

 

 

 

IMG_20171029_093350.jpg

Begitu sampai disana, saya sudah terkesima dengan pohon-pohon pinus yang menjulang tegak ke angkasa. Begitu masuk pintu gerbang, di kanan-kiri sudah ramai orang-orang menjajakan spot-spot untuk foto. Kreatif banget deh. Jadi semacam booth di nikahan, yang nuansanya bisa dipilih-pilih, hanya saja kita harus bayar. Yang kami coba tiga booths seharga 20 rb untuk orang dewasa, 10 ribu untuk anak-anak. Bahkan ada yang meminjamkan kamera juga coba, dan gak sembarang kamera, karena mereka menyediakan kamera Nikon coba dan bayarnya cuma Rp 2000 per foto. Lumayan banget untuk di coba berasa punya fotografer sendiri pas jalan-jalan.

IMG_20171029_065903_1.jpg

IMG_20171029_070048.jpg

IMG_20171028_163329.jpg

 

Lokasi perkemahan kami ternyata lumayan di pelosok, tapi dari gerbang bisa terlihat dan ditempuh dengan jalan kaki. Anehnya dan juga asiknya, ternyata hanya kami yang menginap malam itu. Jadi serasa dunia milik kami. Dua tenda putih terpancang tegak dibatasi oleh bendera-bendera kecil warna-warni sementara di tengah ada tenda untuk makan di hiasi lampu-lampu cantik. Seruuuu dan cantiiiik.

IMG_20171029_094057.jpg

 

IMG_20171029_053355.jpg

IMG_20171029_094925.jpg

IMG_20171029_053519.jpg

 

Setelah beberes, kami makan siang di ruang makan baru kami karena di perjalanan tidak sempat mampir. Tidak ada restoran atau warung terdekat, untungnya ada mas-mas penjaga yang helpful. Akhirnya kami meminta bantuannya untuk membeli nasi dan lauk pauk. Aaah ketika makanan terhidang, kami makan dengan lahap (baca: bapak-ibunya yah, karena anak-anak sibuk main). Memang beda yah makan di alam terbuka.

Setelah kenyang dan leyeh-leyeh sebentar, kami pun memutuskan jalan-jalan sekitar lokasi perkemahan. Kami juga mencoba foto-foto di beberapa booth yang cantik dan satu foto wajib duduk tindih-tindihan di hammock dong yaah…

Setelah itu kami pulang dan makan malam sudah tersedia. Ayam bakar, sambal, sop dan krupuk. Yummmmeeeeh. Kami pun meminta acara api unggun (iyah karena kami memesan jauh-jauh hari, kami dapat fasilitas api unggun juga) dipercepat, karena takutnya anak-anak keburu ngantuk.

IMG_20171028_174325.jpg

IMG_20171028_181835.jpg

Aah tapi salah perhitungan, karena anak-anak jadi gak konsen makan, mereka terkesima melihat api unggun yang sudah menyala.  Di sebelah api unggun, kami pun membakar jagung dan sosis yang kami bawa dari rumah. Anak-anak pun ikut membantu, kecuali Nyala yang sibuk mondar-mandir melihat api unggun.

Enaknya membawa anak-anak kecil berkemah adalah kami tidak butuh upaya keras untuk menyenangkan mereka. Batu-batu besar, tetumbuhan di pinggir jalan sudah membuat mereka girang, dataran kosong pun menjadi tempat mereka berlari-lari tanpa henti. Begitu masuk tenda, mereka bisa berjam-jam didalam. Si Nyala pun sontak berteriak “rumah” bukan “tenda” ketika ditanya kita ada di mana sekarang.

Esoknya kami bangun pagi dan jalan-jalan memutari kawasan gunung Pancar. Kami melihat banyak juga yang bertenda di sekitar kami dan mereka membawa tenda sendiri. Aah mungkin kami akan mencobanya kelak, ketika anak-anak sudah gedean lagi. Setelah kembali, sarapan sudah siap dan setelahnya kami pun menghabis waktu menikmati saat-saat terakhir kami di gunung Pancar sambil berfoto-foto.

IMG_20171029_062458.jpg

IMG_20171029_063531.jpg

IMG_20171029_071136.jpg

Sebenarnya asik glamping di gunung Pancar, karena gak glamor-glamor amat. Suasana berkemahnya masih dapat kok, sempurnalah sebagai pengenalan anak-anak yang ingin diajak bener-benar camping.

Sebelum kembali ke rumah, Ahsan dan Silmi mengajak kami ke air terjun didekat sana. Sebenarnya pilihan tempat wisata dekat sana selain air terjun adalah pemandian air panas, tapi karena gak yakin dengan air panasnya, kami memutuskan untuk ke air terjun. Tapi udara di gunung Pancar tidak dingin-dingin amat, kami pun jarang memakai jaket disana.

IMG_20171029_120023.jpg

Sebeneranya air terjunnya gak okay-okay banget kok. Lebih cocok untuk anak-anak yang sudah besar, karena ada beberapa titik yang lumayan dalam. Jadinya kami main di air-air berbatu saja.

Setelah basah dan capek, kami pun pulang. Sebenarnya yang seru juga adalah perjalanan dari tempat perkemahan ke air terjun, kami melewati beberapa lereng-lereng cantik yang masih penuh dengan sawah-sawah bertingkat. Kami sempat berhenti untuk foto-foto dan sekembalinya dari sana menuju rumah, kami melewati gunung Pancar kembali dan melihat dari jauh tenda-tenda putih kami sudah hilang. Aaah…saya langsung mengerti kenapa Nyala bisa menyebutnya rumah dan bukan tenda.

IMG_20171029_111441.jpg