Ibu Ika?
aah mau ga mau sekarang aku harus mengamini panggilan itu. Aku sudah tidak berhak lagi keberatan jika ada seseorang memanggilku dengan panggilan ibu, karena nyatanya ya emang aku sekarang ini adalah ibu dari senyum pagi.
Tapi selain bukti fisik berupa anak dan jahitan caesar di perut, ternyata ada hal-hal kecil yang membuka mataku bahwa aku sekarang memang udah jadi emak-emak. Hal-hal remeh-temeh yang konyol yang menyadarkanku akan status baruku itu.
Aku sadar sekarang aku jadi ibu-ibu, ketika suatu ketika aku menjadi lebih peka dengan sale yang ada mothercare ketimbang di zara atau mango. Aah tanya kenapa?
tapi yang paling parah mungkin adalah ketika aku menjadi terpaku diam di rak tisu di sebuah pusat perbelanjaan di jakarta hanya untuk memilih tisu yang paling murah. Duh. Aku pun berdiri di tumpukan tisu-tisu tak bergeming memandang harga dan berapa jumlah tisu yang ditawarkan untuk membandingkan mana tisu yang harus kubeli. merek A dengan harga 18,000 dapat sekian lembar, lalu merek B lebih mahal dengan jumlah lembaran yang sama, merek C lebih murah tapi kurang bagus mutunya. merek D menawarkan harga yang tidak terlalu mahal, dengan kualitas yang lumayan dan juga bonus.
lalu, lalu…
belum sampai pada kesimpulan, datanglah suami saya menghampiri saya, ternyata dia mencari-cari kemana saya pergi. Ketika aku menjelaskan apa yang kulakukan, dengan gelengan kepala dia pun berkata, “Ibu-ibu banget sih,”
Aku pun terdiam, ingin protes dan memberikan argumentasi, tapi dalam hati aku merasakan bahwa perkataannya benar. Dulu, aku bisa cuek aja mengambil barang yang sudah biasa dibeli, lalu langsung ngacir ke kasir. tapi sekarang?
duh makanya saya memohon kepada seorang teman programmer untuk membuat aplikasi yang bisa secara langsung memberikan info harga di supermarket-supermarket besar dan juga memberikan perbandingan mana yang paling murah. Wah, program semacam itu pasti langsung diserbuu. Diserbu emak-emak macam saya ini







